Sunday, January 13, 2013

8 Jenis Cinta Menurut Al Quran Dan As Sunnah

| | 0 comments



Menurut Hadis Nabi, orang yang sedang jatuh cinta cenderung mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (Man Ahabba Syai’an Katsura Dzikruhu). Sabda Nabi, ‘Orang juga bisa diperbudak oleh cintanya’ (Man Ahabba Syai’an Fa Huwa `Abduhu). Sabda Nabi lagi, ‘Ciri dari cinta sejati ada tiga :

(1) Lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain,

(2) Lebih suka berkumpul dengan yang dicintai Ddibanding dengan yang lain, dan

(3) Lebih suka mengikuti kemauan yang dicintai dibanding kemauan orang lain/diri sendiri.’

Bagi orang yang telah jatuh cinta kepada Allah SWT, maka ia lebih suka berbicara dengan Allah SWT, Dengan Membaca FirmanNya, “Lebih suka bercengkerama dengan Allah SWT dalam I`Tikaf, dan lebih patuh mengikuti perintah Allah SWT daripada perintah yang lain. 

Dalam Al Quran Cinta Memiliki 8 Pengertian Berikut Ini Penjelasannya:


1. Cinta mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan “nggemesi”. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, mahunya selalu berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain. 

2. Cinta rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, sanggup berkorban, dan melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih meski untuk itu dia harus menderita. Dia amat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya. Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antara orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari itu dalam Al Quran, kerabat disebut al arham, dzawi al arham, yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim. Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah dianjurkan untuk selalu bersilaturrahim, ertinya menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta mawaddah dan rahmah biasanya saling setia lahir batin, dunia akhirat.

3. 
Cinta mail adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara, sehingga menyedut seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam Al Quran disebut dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.

4. Cinta syaghaf adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan memabukkan. Orang yang diserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha hubba) bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyadari apa yang dilakukan. Al Quran menggunakan istilah syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, isteri pembesar Mesir kepada bujangnya, Yusuf.


5. Cinta ra’fah, iaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak sampai hati mengejutkannya untuk solat, membelanya meskipun salah. Al Quran menyebut istilah ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kes hukuman bagi pezina (Q/24:2).

6. Cinta shobwah, iaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku penyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Quran menyebut istilah ini ketika mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan ke dalam penjara), jika tidak lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin (Q/12:33)

7. Cinta syauq (rindu). Istilah ini bukan dari Al Quran tetapi dari hadis yang menafsirkan Al Quran. Dalam surah Al `Ankabut ayat 5 dikatakan bahawa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Kalimah kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma’tsur dari hadis riwayat Ahmad; wa as’aluka ladzzata an nadzori ila wajhika wa as syauqa ila liqa’ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu. Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pencinta, hurqat al mahabbah wa il tihab naruha fi qalb al muhibbi

8. Cinta kulfah. Yakni perasaan cinta yang disertai kesedaran mendidik kepada hal-hal yang positif meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meskipun ada pembantu. Jenis cinta ini disebut Al Quran ketika menyatakan bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la yukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286)


Read more...

Monday, September 10, 2012

Apa yang ada dalam Luh Mahfuz dan siapa yang telah melihatnya?

| | 0 comments

 Luh Mahfuz ialah sebuah kitab yang Allah tulis di dalamnya qadha qadar semua makhluk sebelum Allah jadikan mereka.

    Ini dapat dibuktikan daripada firman Allah dalam surah Al Haj ayat 70 :
أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاء وَالأَرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِيْ كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيْرٌ. (سورة الحج أية 70).
yang bermaksud : 
Terjemahan Indonesia : 70. Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.
Terjemahan Ar Rahman : 70. Bukankah Engkau telah mengetahui bahawasanya Allah mengetahui Segala Yang ada di langit dan di bumi? Sesungguhnya Yang demikian itu ada tertulis di Dalam Kitab (Lauh Mahfuz); Sesungguhnya hal itu amatlah mudah bagi Allah.

    Berkatalah Ibnu Atiyyah (ابن عطية) : Kitab itu ialah Luh Mahfuz.

    Dalam ayat lain pula Allah Taala berfirman dalam surah Al Hadid ayat 22 :
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيْبَةٍ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِيْ أَنْفُسِكُمْ إِلاَّ فِيْ كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيْرٌ. (سورة الحديد أية 22).
yang bermaksud :
Terjemahan Indonesia : 22. Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
Terjemahan Ar Rahman : 22. Tidak ada sesuatu kesusahan (atau bala bencana) Yang ditimpakan di bumi, dan tidak juga Yang menimpa diri kamu, melainkan telah sedia ada di Dalam Kitab (pengetahuan kami) sebelum Kami menjadikannya; Sesungguhnya mengadakan Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

    Berkatalah Imam Al Qurtubi (الإمام القرطبي) : Kitab di sini bermakna Luh Mahfuz.

    Dalam satu hadith yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari (الإمام البخاري), daripada Imran Ibnu Husain (عمران بن حصين), dalam satu hadith yang panjang, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda :
عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا ... قَالَ : كَانَ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ شَىْءٌ غَيْرُهُ، وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ، وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِ كُلَّ شَىْءٍ، وَخَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ‏‏ ... (صحيح البخاري حديث 3191).
yang bermaksud :
adalah Allah dan tidak ada bersama-sama Allah sesuatu pun melainkan Allah Taala sahaja yang ada pada masa itu, dan adalah arasy Allah (عرش) berada di atas air, dan Allah Taala menulis pada Az Zikr (الذكر) kesemuanya, dan Allah menciptakan langit dan bumi.

    Berkatalah Ibnu Hajar (ابن حجر) : yang dimaksudkan dengan Az Zikri (الذكر) ialah Luh Mahfuz.

    Disebutkan dalam kitab-kitab tafsir satu kata-kata daripada Ibnu Abbas (ابن عباس) : Luh Mahfuz itu diperbuat daripada yaqut merah, atasnya terikat pada arasy manakala bawahnya di pangkuan malaikat-malaikat, tulisannya cahaya, dan penanya cahaya, Allah melihat kepada Luh Mahfuz setiap hari sebanyak 360 kali, setiap kali Allah melihat kepada Luh Mahfuz Allah akan berbuat apa yang dia kehendaki, Allah akan mengangkat darjat orang yang hina, Allah akan merendahkan orang yang tinggi darjat, iaitu Allah mengkayakan yang miskin dan memiskinkan yang kaya, Allah menghidupkan yang mati dan mematikan yang hidup, Allah berbuat apa yang Allah kehendaki, tiada tuhan yang sebenar-benarnya melainkan Dia.

    Daripada Ibnu Abbas lagi : Allah menciptakan Luh Mahfuz dalam tempoh seribu tahun, maka Allah berkata kepada pena sebelum Allah ciptakan makhluk-makhluk Allah : tulislah ilmu Ku pada makhluk-makhluk Ku, maka berlakulah apa yang hendak berlaku hingga ke hari kiamat.

    Adapun melihat Luh Mahfuz, maka tidak ada satu pun dalil yang boleh diyakini bahawa Allah pernah memberikan keizinan kepada mana-mana manusia yang Allah kehendaki. Kalau perkara itu mungkin, maka sudah tentu Allah akan memberikan keizinan kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam melihat Luh Mahfuz, yang mana Nabi Muhammad telah sampai kepada penghujung ciptaan Allah sedangkan malaikat Jibril sendiri pun tidak pernah sampai ke situ. Kisah itu berlaku pada malam Lailatul Qadar.

    Adapun melihat beberapa perkara ghaib yang terkandung di dalam Luh MAhfuz, maka harus dicapai oleh sesiapa yang Allah kehendaki, maka sesungguhnya para nabi melihat sebahagian daripada kandungan Luh Mahfuz melalui jalan wahyu.

    Ianya juga berlaku kepada beberapa orang soleh dengan jalan kasyaf dan ilham daripada Allah Taala.

    Dalam satu hadith Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam

yang bermaksud : 

Perhatian di sini hendaklah diperhatikan beberapa perkara :

    Pertama : hendaklah setiap orang Islam dapat membezakan antara ilham yang datang dari Allah dan ilham yang datang dari syaitan supaya tidak terjatuh ke dalam syirik yang membatalkan syahadah. Ilham daripada Allah dapat dicapai oleh mereka yang lurus zahir dan batinnya atas syariat Allah, samada pada iktikadnya, perkataannya dan perbuatannya. Manakala ilham daripada syaitan maka ia dicapai oleh golongan zindiq, pembuat bidaah yang tergelincir dan sesat.

    Kedua : Mereka yang mendapat kasyaf dan ilham daripada Allah tidak bermakna mereka lebih afdhal daripada mereka yang tidak mencapai kasyaf dan ilham dari Allah. Kadang-kadang kita akan dapati orang yang tidak mencapai kasyaf dan ilham dari Allah lebih tinggi darjatnya dan lebih afhal daripada mereka yang mendapat kasyaf dan ilham daripada Allah.

    Ketiga : Untuk mencapai hukum syarak, tidak ada jalan lain melainkan daripada Al Quran dan As Sunnah mengikut fahaman salaf soleh. Adapun kasyaf dan ilham daripada Allah maka ianya tidak boleh dijadikan asas untuk membentuk hukum syarak dan dalil agama.

    Tentang cerita mengatakan Ibnu Taimiyyah pernah mencapai kasyaf, maka ada riwayat-riwayat yang mengatakan begitu, antaranya IbnuTaimiyyah memberitahu bala tentera Tartar akan mengalami kekalahan walaupun berita kedatangan tentera Tartar belum kedatangan lagi, dan Ibnu Taimiyyah pernah bersumpah tentang perkhabaran itu. Cerita ini dapat kita anggapkan sebagai Ibnu Taimiyyah adalah di antara mereka yang lurus zahirnya dan batinnya, perkataannya, amalannya dan iktikadnya.
Read more...

Monday, August 6, 2012

Kitab itu ialah Luh Mahfuz

| | 0 comments



 Luh Mahfuz ialah sebuah kitab yang Allah tulis di dalamnya qadha qadar semua makhluk sebelum Allah jadikan mereka.

    Ini dapat dibuktikan daripada firman Allah dalam surah Al Haj ayat 70 :
أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاء وَالأَرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِيْ كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيْرٌ. (سورة الحج أية 70).
yang bermaksud : 
Terjemahan Indonesia : 70. Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.
Terjemahan Ar Rahman : 70. Bukankah Engkau telah mengetahui bahawasanya Allah mengetahui Segala Yang ada di langit dan di bumi? Sesungguhnya Yang demikian itu ada tertulis di Dalam Kitab (Lauh Mahfuz); Sesungguhnya hal itu amatlah mudah bagi Allah.

    Berkatalah Ibnu Atiyyah (ابن عطية) : Kitab itu ialah Luh Mahfuz.

    Dalam ayat lain pula Allah Taala berfirman dalam surah Al Hadid ayat 22 :
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيْبَةٍ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِيْ أَنْفُسِكُمْ إِلاَّ فِيْ كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيْرٌ. (سورة الحديد أية 22).
yang bermaksud :
Terjemahan Indonesia : 22. Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
Terjemahan Ar Rahman : 22. Tidak ada sesuatu kesusahan (atau bala bencana) Yang ditimpakan di bumi, dan tidak juga Yang menimpa diri kamu, melainkan telah sedia ada di Dalam Kitab (pengetahuan kami) sebelum Kami menjadikannya; Sesungguhnya mengadakan Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

    Berkatalah Imam Al Qurtubi (الإمام القرطبي) : Kitab di sini bermakna Luh Mahfuz.

    Dalam satu hadith yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari (الإمام البخاري), daripada Imran Ibnu Husain (عمران بن حصين), dalam satu hadith yang panjang, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda :
عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا ... قَالَ : كَانَ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ شَىْءٌ غَيْرُهُ، وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ، وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِ كُلَّ شَىْءٍ، وَخَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ‏‏ ... (صحيح البخاري حديث 3191).
yang bermaksud :
adalah Allah dan tidak ada bersama-sama Allah sesuatu pun melainkan Allah Taala sahaja yang ada pada masa itu, dan adalah arasy Allah (عرش) berada di atas air, dan Allah Taala menulis pada Az Zikr (الذكر) kesemuanya, dan Allah menciptakan langit dan bumi.

    Berkatalah Ibnu Hajar (ابن حجر) : yang dimaksudkan dengan Az Zikri (الذكر) ialah Luh Mahfuz.

    Disebutkan dalam kitab-kitab tafsir satu kata-kata daripada Ibnu Abbas (ابن عباس) : Luh Mahfuz itu diperbuat daripada yaqut merah, atasnya terikat pada arasy manakala bawahnya di pangkuan malaikat-malaikat, tulisannya cahaya, dan penanya cahaya, Allah melihat kepada Luh Mahfuz setiap hari sebanyak 360 kali, setiap kali Allah melihat kepada Luh Mahfuz Allah akan berbuat apa yang dia kehendaki, Allah akan mengangkat darjat orang yang hina, Allah akan merendahkan orang yang tinggi darjat, iaitu Allah mengkayakan yang miskin dan memiskinkan yang kaya, Allah menghidupkan yang mati dan mematikan yang hidup, Allah berbuat apa yang Allah kehendaki, tiada tuhan yang sebenar-benarnya melainkan Dia.

    Daripada Ibnu Abbas lagi : Allah menciptakan Luh Mahfuz dalam tempoh seribu tahun, maka Allah berkata kepada pena sebelum Allah ciptakan makhluk-makhluk Allah : tulislah ilmu Ku pada makhluk-makhluk Ku, maka berlakulah apa yang hendak berlaku hingga ke hari kiamat.

    Adapun melihat Luh Mahfuz, maka tidak ada satu pun dalil yang boleh diyakini bahawa Allah pernah memberikan keizinan kepada mana-mana manusia yang Allah kehendaki. Kalau perkara itu mungkin, maka sudah tentu Allah akan memberikan keizinan kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam melihat Luh Mahfuz, yang mana Nabi Muhammad telah sampai kepada penghujung ciptaan Allah sedangkan malaikat Jibril sendiri pun tidak pernah sampai ke situ. Kisah itu berlaku pada malam Lailatul Qadar.

    Adapun melihat beberapa perkara ghaib yang terkandung di dalam Luh MAhfuz, maka harus dicapai oleh sesiapa yang Allah kehendaki, maka sesungguhnya para nabi melihat sebahagian daripada kandungan Luh Mahfuz melalui jalan wahyu.

    Ianya juga berlaku kepada beberapa orang soleh dengan jalan kasyaf dan ilham daripada Allah Taala.

    Dalam satu hadith Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam

yang bermaksud : 

Perhatian di sini hendaklah diperhatikan beberapa perkara :

    Pertama : hendaklah setiap orang Islam dapat membezakan antara ilham yang datang dari Allah dan ilham yang datang dari syaitan supaya tidak terjatuh ke dalam syirik yang membatalkan syahadah. Ilham daripada Allah dapat dicapai oleh mereka yang lurus zahir dan batinnya atas syariat Allah, samada pada iktikadnya, perkataannya dan perbuatannya. Manakala ilham daripada syaitan maka ia dicapai oleh golongan zindiq, pembuat bidaah yang tergelincir dan sesat.

    Kedua : Mereka yang mendapat kasyaf dan ilham daripada Allah tidak bermakna mereka lebih afdhal daripada mereka yang tidak mencapai kasyaf dan ilham dari Allah. Kadang-kadang kita akan dapati orang yang tidak mencapai kasyaf dan ilham dari Allah lebih tinggi darjatnya dan lebih afhal daripada mereka yang mendapat kasyaf dan ilham daripada Allah.

    Ketiga : Untuk mencapai hukum syarak, tidak ada jalan lain melainkan daripada Al Quran dan As Sunnah mengikut fahaman salaf soleh. Adapun kasyaf dan ilham daripada Allah maka ianya tidak boleh dijadikan asas untuk membentuk hukum syarak dan dalil agama.

    Tentang cerita mengatakan Ibnu Taimiyyah pernah mencapai kasyaf, maka ada riwayat-riwayat yang mengatakan begitu, antaranya IbnuTaimiyyah memberitahu bala tentera Tartar akan mengalami kekalahan walaupun berita kedatangan tentera Tartar belum kedatangan lagi, dan Ibnu Taimiyyah pernah bersumpah tentang perkhabaran itu. Cerita ini dapat kita anggapkan sebagai Ibnu Taimiyyah adalah di antara mereka yang lurus zahirnya dan batinnya, perkataannya, amalannya dan iktikadnya.
Read more...

Blogroll

Powered by Blogger.

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Editors Picks

Pages

 

Designed by: Compartidísimo
Images by: DeliciousScraps©