Friday, June 20, 2014
Sunday, January 13, 2013
8 Jenis Cinta Menurut Al Quran Dan As Sunnah
| at January 13, 2013 | 0 comments
Menurut Hadis Nabi, orang yang sedang jatuh cinta cenderung
mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (Man Ahabba Syai’an
Katsura Dzikruhu). Sabda Nabi, ‘Orang juga bisa diperbudak oleh cintanya’ (Man
Ahabba Syai’an Fa Huwa `Abduhu). Sabda Nabi lagi, ‘Ciri dari cinta sejati
ada tiga :
(1) Lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding
dengan yang lain,
(2) Lebih suka berkumpul dengan yang dicintai Ddibanding
dengan yang lain, dan
(3) Lebih suka mengikuti kemauan yang dicintai dibanding
kemauan orang lain/diri sendiri.’
Bagi orang yang telah jatuh cinta kepada Allah SWT, maka ia
lebih suka berbicara dengan Allah SWT, Dengan Membaca FirmanNya, “Lebih suka
bercengkerama dengan Allah SWT dalam I`Tikaf, dan lebih patuh mengikuti
perintah Allah SWT daripada perintah yang lain.
Dalam Al Quran Cinta Memiliki 8 Pengertian Berikut Ini
Penjelasannya:
1. Cinta mawaddah adalah
jenis cinta mengebu-gebu, membara dan “nggemesi”. Orang yang memiliki
cinta jenis mawaddah, mahunya selalu berdua, enggan berpisah dan selalu ingin
memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa
berfikir lain.
2. Cinta rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih
sayang, lembut, sanggup berkorban, dan melindungi. Orang yang memiliki cinta
jenis rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap
diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih meski untuk
itu dia harus menderita. Dia amat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu
memaafkan kesalahan kekasihnya. Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antara
orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan
sebaliknya. Dari itu dalam Al Quran, kerabat disebut al arham, dzawi al arham, yakni
orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari
garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang
anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang
disebut rahim. Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah
dianjurkan untuk selalu bersilaturrahim, ertinya menyambung tali kasih sayang.
Suami isteri yang diikat oleh cinta mawaddah dan rahmah biasanya saling setia
lahir batin, dunia akhirat.
3. Cinta mail adalah jenis cinta
yang untuk sementara sangat membara, sehingga menyedut seluruh perhatian hingga
hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam Al Quran
disebut dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada
yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang
lama.
4. Cinta syaghaf adalah cinta yang sangat
mendalam, alami, orisinil dan memabukkan. Orang yang diserang
cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha hubba) bisa seperti orang gila, lupa
diri dan hampir-hampir tak menyadari apa yang dilakukan. Al Quran menggunakan
istilah syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, isteri
pembesar Mesir kepada bujangnya, Yusuf.
5. Cinta ra’fah, iaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan
norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak sampai hati
mengejutkannya untuk solat, membelanya meskipun salah. Al Quran
menyebut istilah ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah
menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kes hukuman bagi
pezina (Q/24:2).
6. Cinta shobwah, iaitu cinta buta, cinta
yang mendorong perilaku penyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Quran
menyebut istilah ini ketika mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa
agar dipisahkan dengan Zulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan
ke dalam penjara), jika tidak lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam
perbuatan bodoh, wa illa
tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin (Q/12:33)
7. Cinta syauq (rindu). Istilah ini bukan
dari Al Quran tetapi dari hadis yang menafsirkan Al Quran. Dalam surah Al
`Ankabut ayat 5 dikatakan bahawa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti
waktunya akan tiba. Kalimah kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma’tsur dari hadis riwayat Ahmad; wa as’aluka ladzzata an nadzori ila
wajhika wa as syauqa ila liqa’ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya
memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu. Menurut
Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin,
Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb
ila al mahbub), dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang
pencinta, hurqat al mahabbah
wa il tihab naruha fi qalb al muhibbi
8. Cinta kulfah. Yakni perasaan cinta yang
disertai kesedaran mendidik kepada hal-hal yang positif meski sulit, seperti
orang tua yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meskipun
ada pembantu. Jenis cinta ini disebut Al Quran ketika menyatakan bahwa Allah
tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la yukallifullah nafsan illa
wus`aha (Q/2:286)
Menurut Hadis Nabi, orang yang sedang jatuh cinta cenderung
mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (Man Ahabba Syai’an
Katsura Dzikruhu). Sabda Nabi, ‘Orang juga bisa diperbudak oleh cintanya’ (Man
Ahabba Syai’an Fa Huwa `Abduhu). Sabda Nabi lagi, ‘Ciri dari cinta sejati
ada tiga :
(1) Lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding
dengan yang lain,
(2) Lebih suka berkumpul dengan yang dicintai Ddibanding
dengan yang lain, dan
(3) Lebih suka mengikuti kemauan yang dicintai dibanding
kemauan orang lain/diri sendiri.’
Bagi orang yang telah jatuh cinta kepada Allah SWT, maka ia
lebih suka berbicara dengan Allah SWT, Dengan Membaca FirmanNya, “Lebih suka
bercengkerama dengan Allah SWT dalam I`Tikaf, dan lebih patuh mengikuti
perintah Allah SWT daripada perintah yang lain.
Dalam Al Quran Cinta Memiliki 8 Pengertian Berikut Ini
Penjelasannya:
1. Cinta mawaddah adalah
jenis cinta mengebu-gebu, membara dan “nggemesi”. Orang yang memiliki
cinta jenis mawaddah, mahunya selalu berdua, enggan berpisah dan selalu ingin
memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa
berfikir lain.
2. Cinta rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih
sayang, lembut, sanggup berkorban, dan melindungi. Orang yang memiliki cinta
jenis rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap
diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih meski untuk
itu dia harus menderita. Dia amat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu
memaafkan kesalahan kekasihnya. Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antara
orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan
sebaliknya. Dari itu dalam Al Quran, kerabat disebut al arham, dzawi al arham, yakni
orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari
garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang
anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang
disebut rahim. Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah
dianjurkan untuk selalu bersilaturrahim, ertinya menyambung tali kasih sayang.
Suami isteri yang diikat oleh cinta mawaddah dan rahmah biasanya saling setia
lahir batin, dunia akhirat.
3. Cinta mail adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara, sehingga menyedut seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam Al Quran disebut dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.
4. Cinta syaghaf adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan memabukkan. Orang yang diserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha hubba) bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyadari apa yang dilakukan. Al Quran menggunakan istilah syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, isteri pembesar Mesir kepada bujangnya, Yusuf.
5. Cinta ra’fah, iaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak sampai hati mengejutkannya untuk solat, membelanya meskipun salah. Al Quran menyebut istilah ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kes hukuman bagi pezina (Q/24:2).
6. Cinta shobwah, iaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku penyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Quran menyebut istilah ini ketika mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan ke dalam penjara), jika tidak lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin (Q/12:33)
7. Cinta syauq (rindu). Istilah ini bukan dari Al Quran tetapi dari hadis yang menafsirkan Al Quran. Dalam surah Al `Ankabut ayat 5 dikatakan bahawa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Kalimah kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma’tsur dari hadis riwayat Ahmad; wa as’aluka ladzzata an nadzori ila wajhika wa as syauqa ila liqa’ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu. Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pencinta, hurqat al mahabbah wa il tihab naruha fi qalb al muhibbi
8. Cinta kulfah. Yakni perasaan cinta yang
disertai kesedaran mendidik kepada hal-hal yang positif meski sulit, seperti
orang tua yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meskipun
ada pembantu. Jenis cinta ini disebut Al Quran ketika menyatakan bahwa Allah
tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la yukallifullah nafsan illa
wus`aha (Q/2:286)3. Cinta mail adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara, sehingga menyedut seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam Al Quran disebut dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.
4. Cinta syaghaf adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan memabukkan. Orang yang diserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha hubba) bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyadari apa yang dilakukan. Al Quran menggunakan istilah syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, isteri pembesar Mesir kepada bujangnya, Yusuf.
5. Cinta ra’fah, iaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak sampai hati mengejutkannya untuk solat, membelanya meskipun salah. Al Quran menyebut istilah ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kes hukuman bagi pezina (Q/24:2).
6. Cinta shobwah, iaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku penyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Quran menyebut istilah ini ketika mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan ke dalam penjara), jika tidak lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin (Q/12:33)
7. Cinta syauq (rindu). Istilah ini bukan dari Al Quran tetapi dari hadis yang menafsirkan Al Quran. Dalam surah Al `Ankabut ayat 5 dikatakan bahawa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Kalimah kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma’tsur dari hadis riwayat Ahmad; wa as’aluka ladzzata an nadzori ila wajhika wa as syauqa ila liqa’ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu. Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pencinta, hurqat al mahabbah wa il tihab naruha fi qalb al muhibbi
Monday, September 10, 2012
Apa yang ada dalam Luh Mahfuz dan siapa yang telah melihatnya?
| at September 10, 2012 | 0 comments
Luh Mahfuz ialah sebuah kitab yang Allah tulis di dalamnya qadha qadar semua makhluk sebelum Allah jadikan mereka.
Ini dapat dibuktikan daripada firman Allah dalam surah Al Haj ayat 70 :
Terjemahan Indonesia : 70. Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.
Terjemahan Ar Rahman : 70. Bukankah Engkau telah mengetahui bahawasanya Allah mengetahui Segala Yang ada di langit dan di bumi? Sesungguhnya Yang demikian itu ada tertulis di Dalam Kitab (Lauh Mahfuz); Sesungguhnya hal itu amatlah mudah bagi Allah.
Berkatalah Ibnu Atiyyah (ابن عطية) : Kitab itu ialah Luh Mahfuz.
Dalam ayat lain pula Allah Taala berfirman dalam surah Al Hadid ayat 22 :
Terjemahan Indonesia : 22. Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
Terjemahan Ar Rahman : 22. Tidak ada sesuatu kesusahan (atau bala bencana) Yang ditimpakan di bumi, dan tidak juga Yang menimpa diri kamu, melainkan telah sedia ada di Dalam Kitab (pengetahuan kami) sebelum Kami menjadikannya; Sesungguhnya mengadakan Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
Berkatalah Imam Al Qurtubi (الإمام القرطبي) : Kitab di sini bermakna Luh Mahfuz.
Dalam satu hadith yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari (الإمام البخاري), daripada Imran Ibnu Husain (عمران بن حصين), dalam satu hadith yang panjang, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda :
yang bermaksud :
adalah Allah dan tidak ada bersama-sama Allah sesuatu pun melainkan Allah Taala sahaja yang ada pada masa itu, dan adalah arasy Allah (عرش) berada di atas air, dan Allah Taala menulis pada Az Zikr (الذكر) kesemuanya, dan Allah menciptakan langit dan bumi.
Berkatalah Ibnu Hajar (ابن حجر) : yang dimaksudkan dengan Az Zikri (الذكر) ialah Luh Mahfuz.
Disebutkan dalam kitab-kitab tafsir satu kata-kata daripada Ibnu Abbas (ابن عباس) : Luh Mahfuz itu diperbuat daripada yaqut merah, atasnya terikat pada arasy manakala bawahnya di pangkuan malaikat-malaikat, tulisannya cahaya, dan penanya cahaya, Allah melihat kepada Luh Mahfuz setiap hari sebanyak 360 kali, setiap kali Allah melihat kepada Luh Mahfuz Allah akan berbuat apa yang dia kehendaki, Allah akan mengangkat darjat orang yang hina, Allah akan merendahkan orang yang tinggi darjat, iaitu Allah mengkayakan yang miskin dan memiskinkan yang kaya, Allah menghidupkan yang mati dan mematikan yang hidup, Allah berbuat apa yang Allah kehendaki, tiada tuhan yang sebenar-benarnya melainkan Dia.
Daripada Ibnu Abbas lagi : Allah menciptakan Luh Mahfuz dalam tempoh seribu tahun, maka Allah berkata kepada pena sebelum Allah ciptakan makhluk-makhluk Allah : tulislah ilmu Ku pada makhluk-makhluk Ku, maka berlakulah apa yang hendak berlaku hingga ke hari kiamat.
Adapun melihat Luh Mahfuz, maka tidak ada satu pun dalil yang boleh diyakini bahawa Allah pernah memberikan keizinan kepada mana-mana manusia yang Allah kehendaki. Kalau perkara itu mungkin, maka sudah tentu Allah akan memberikan keizinan kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam melihat Luh Mahfuz, yang mana Nabi Muhammad telah sampai kepada penghujung ciptaan Allah sedangkan malaikat Jibril sendiri pun tidak pernah sampai ke situ. Kisah itu berlaku pada malam Lailatul Qadar.
Adapun melihat beberapa perkara ghaib yang terkandung di dalam Luh MAhfuz, maka harus dicapai oleh sesiapa yang Allah kehendaki, maka sesungguhnya para nabi melihat sebahagian daripada kandungan Luh Mahfuz melalui jalan wahyu.
Ianya juga berlaku kepada beberapa orang soleh dengan jalan kasyaf dan ilham daripada Allah Taala.
Dalam satu hadith Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam
yang bermaksud :
Ini dapat dibuktikan daripada firman Allah dalam surah Al Haj ayat 70 :
أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاء وَالأَرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِيْ كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيْرٌ. (سورة الحج أية 70).
yang bermaksud : Terjemahan Indonesia : 70. Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.
Terjemahan Ar Rahman : 70. Bukankah Engkau telah mengetahui bahawasanya Allah mengetahui Segala Yang ada di langit dan di bumi? Sesungguhnya Yang demikian itu ada tertulis di Dalam Kitab (Lauh Mahfuz); Sesungguhnya hal itu amatlah mudah bagi Allah.
Berkatalah Ibnu Atiyyah (ابن عطية) : Kitab itu ialah Luh Mahfuz.
Dalam ayat lain pula Allah Taala berfirman dalam surah Al Hadid ayat 22 :
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيْبَةٍ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِيْ أَنْفُسِكُمْ إِلاَّ فِيْ كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيْرٌ. (سورة الحديد أية 22).
yang bermaksud :Terjemahan Indonesia : 22. Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
Terjemahan Ar Rahman : 22. Tidak ada sesuatu kesusahan (atau bala bencana) Yang ditimpakan di bumi, dan tidak juga Yang menimpa diri kamu, melainkan telah sedia ada di Dalam Kitab (pengetahuan kami) sebelum Kami menjadikannya; Sesungguhnya mengadakan Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
Berkatalah Imam Al Qurtubi (الإمام القرطبي) : Kitab di sini bermakna Luh Mahfuz.
Dalam satu hadith yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari (الإمام البخاري), daripada Imran Ibnu Husain (عمران بن حصين), dalam satu hadith yang panjang, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda :
عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا ... قَالَ : كَانَ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ شَىْءٌ غَيْرُهُ، وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ، وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِ كُلَّ شَىْءٍ، وَخَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ ... (صحيح البخاري حديث 3191).
adalah Allah dan tidak ada bersama-sama Allah sesuatu pun melainkan Allah Taala sahaja yang ada pada masa itu, dan adalah arasy Allah (عرش) berada di atas air, dan Allah Taala menulis pada Az Zikr (الذكر) kesemuanya, dan Allah menciptakan langit dan bumi.
Berkatalah Ibnu Hajar (ابن حجر) : yang dimaksudkan dengan Az Zikri (الذكر) ialah Luh Mahfuz.
Disebutkan dalam kitab-kitab tafsir satu kata-kata daripada Ibnu Abbas (ابن عباس) : Luh Mahfuz itu diperbuat daripada yaqut merah, atasnya terikat pada arasy manakala bawahnya di pangkuan malaikat-malaikat, tulisannya cahaya, dan penanya cahaya, Allah melihat kepada Luh Mahfuz setiap hari sebanyak 360 kali, setiap kali Allah melihat kepada Luh Mahfuz Allah akan berbuat apa yang dia kehendaki, Allah akan mengangkat darjat orang yang hina, Allah akan merendahkan orang yang tinggi darjat, iaitu Allah mengkayakan yang miskin dan memiskinkan yang kaya, Allah menghidupkan yang mati dan mematikan yang hidup, Allah berbuat apa yang Allah kehendaki, tiada tuhan yang sebenar-benarnya melainkan Dia.
Daripada Ibnu Abbas lagi : Allah menciptakan Luh Mahfuz dalam tempoh seribu tahun, maka Allah berkata kepada pena sebelum Allah ciptakan makhluk-makhluk Allah : tulislah ilmu Ku pada makhluk-makhluk Ku, maka berlakulah apa yang hendak berlaku hingga ke hari kiamat.
Adapun melihat Luh Mahfuz, maka tidak ada satu pun dalil yang boleh diyakini bahawa Allah pernah memberikan keizinan kepada mana-mana manusia yang Allah kehendaki. Kalau perkara itu mungkin, maka sudah tentu Allah akan memberikan keizinan kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam melihat Luh Mahfuz, yang mana Nabi Muhammad telah sampai kepada penghujung ciptaan Allah sedangkan malaikat Jibril sendiri pun tidak pernah sampai ke situ. Kisah itu berlaku pada malam Lailatul Qadar.
Adapun melihat beberapa perkara ghaib yang terkandung di dalam Luh MAhfuz, maka harus dicapai oleh sesiapa yang Allah kehendaki, maka sesungguhnya para nabi melihat sebahagian daripada kandungan Luh Mahfuz melalui jalan wahyu.
Ianya juga berlaku kepada beberapa orang soleh dengan jalan kasyaf dan ilham daripada Allah Taala.
Dalam satu hadith Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam
yang bermaksud :
Perhatian di sini hendaklah diperhatikan beberapa perkara :
Pertama : hendaklah setiap orang Islam dapat membezakan antara ilham yang datang dari Allah dan ilham yang datang dari syaitan supaya tidak terjatuh ke dalam syirik yang membatalkan syahadah. Ilham daripada Allah dapat dicapai oleh mereka yang lurus zahir dan batinnya atas syariat Allah, samada pada iktikadnya, perkataannya dan perbuatannya. Manakala ilham daripada syaitan maka ia dicapai oleh golongan zindiq, pembuat bidaah yang tergelincir dan sesat.
Kedua : Mereka yang mendapat kasyaf dan ilham daripada Allah tidak bermakna mereka lebih afdhal daripada mereka yang tidak mencapai kasyaf dan ilham dari Allah. Kadang-kadang kita akan dapati orang yang tidak mencapai kasyaf dan ilham dari Allah lebih tinggi darjatnya dan lebih afhal daripada mereka yang mendapat kasyaf dan ilham daripada Allah.
Ketiga : Untuk mencapai hukum syarak, tidak ada jalan lain melainkan daripada Al Quran dan As Sunnah mengikut fahaman salaf soleh. Adapun kasyaf dan ilham daripada Allah maka ianya tidak boleh dijadikan asas untuk membentuk hukum syarak dan dalil agama.
Tentang cerita mengatakan Ibnu Taimiyyah pernah mencapai kasyaf, maka ada riwayat-riwayat yang mengatakan begitu, antaranya IbnuTaimiyyah memberitahu bala tentera Tartar akan mengalami kekalahan walaupun berita kedatangan tentera Tartar belum kedatangan lagi, dan Ibnu Taimiyyah pernah bersumpah tentang perkhabaran itu. Cerita ini dapat kita anggapkan sebagai Ibnu Taimiyyah adalah di antara mereka yang lurus zahirnya dan batinnya, perkataannya, amalannya dan iktikadnya.
Monday, August 6, 2012
Kitab itu ialah Luh Mahfuz
| at August 06, 2012 | 0 commentsLuh Mahfuz ialah sebuah kitab yang Allah tulis di dalamnya qadha qadar semua makhluk sebelum Allah jadikan mereka.
Ini dapat dibuktikan daripada firman Allah dalam surah Al Haj ayat 70 :
أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاء وَالأَرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِيْ كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيْرٌ. (سورة الحج أية 70).
yang bermaksud : Terjemahan Indonesia : 70. Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.
Terjemahan Ar Rahman : 70. Bukankah Engkau telah mengetahui bahawasanya Allah mengetahui Segala Yang ada di langit dan di bumi? Sesungguhnya Yang demikian itu ada tertulis di Dalam Kitab (Lauh Mahfuz); Sesungguhnya hal itu amatlah mudah bagi Allah.
Berkatalah Ibnu Atiyyah (ابن عطية) : Kitab itu ialah Luh Mahfuz.
Dalam ayat lain pula Allah Taala berfirman dalam surah Al Hadid ayat 22 :
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيْبَةٍ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِيْ أَنْفُسِكُمْ إِلاَّ فِيْ كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيْرٌ. (سورة الحديد أية 22).
yang bermaksud :Terjemahan Indonesia : 22. Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
Terjemahan Ar Rahman : 22. Tidak ada sesuatu kesusahan (atau bala bencana) Yang ditimpakan di bumi, dan tidak juga Yang menimpa diri kamu, melainkan telah sedia ada di Dalam Kitab (pengetahuan kami) sebelum Kami menjadikannya; Sesungguhnya mengadakan Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
Berkatalah Imam Al Qurtubi (الإمام القرطبي) : Kitab di sini bermakna Luh Mahfuz.
Dalam satu hadith yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari (الإمام البخاري), daripada Imran Ibnu Husain (عمران بن حصين), dalam satu hadith yang panjang, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda :
عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا ... قَالَ : كَانَ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ شَىْءٌ غَيْرُهُ، وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ، وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِ كُلَّ شَىْءٍ، وَخَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ ... (صحيح البخاري حديث 3191).
adalah Allah dan tidak ada bersama-sama Allah sesuatu pun melainkan Allah Taala sahaja yang ada pada masa itu, dan adalah arasy Allah (عرش) berada di atas air, dan Allah Taala menulis pada Az Zikr (الذكر) kesemuanya, dan Allah menciptakan langit dan bumi.
Berkatalah Ibnu Hajar (ابن حجر) : yang dimaksudkan dengan Az Zikri (الذكر) ialah Luh Mahfuz.
Disebutkan dalam kitab-kitab tafsir satu kata-kata daripada Ibnu Abbas (ابن عباس) : Luh Mahfuz itu diperbuat daripada yaqut merah, atasnya terikat pada arasy manakala bawahnya di pangkuan malaikat-malaikat, tulisannya cahaya, dan penanya cahaya, Allah melihat kepada Luh Mahfuz setiap hari sebanyak 360 kali, setiap kali Allah melihat kepada Luh Mahfuz Allah akan berbuat apa yang dia kehendaki, Allah akan mengangkat darjat orang yang hina, Allah akan merendahkan orang yang tinggi darjat, iaitu Allah mengkayakan yang miskin dan memiskinkan yang kaya, Allah menghidupkan yang mati dan mematikan yang hidup, Allah berbuat apa yang Allah kehendaki, tiada tuhan yang sebenar-benarnya melainkan Dia.
Daripada Ibnu Abbas lagi : Allah menciptakan Luh Mahfuz dalam tempoh seribu tahun, maka Allah berkata kepada pena sebelum Allah ciptakan makhluk-makhluk Allah : tulislah ilmu Ku pada makhluk-makhluk Ku, maka berlakulah apa yang hendak berlaku hingga ke hari kiamat.
Adapun melihat Luh Mahfuz, maka tidak ada satu pun dalil yang boleh diyakini bahawa Allah pernah memberikan keizinan kepada mana-mana manusia yang Allah kehendaki. Kalau perkara itu mungkin, maka sudah tentu Allah akan memberikan keizinan kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam melihat Luh Mahfuz, yang mana Nabi Muhammad telah sampai kepada penghujung ciptaan Allah sedangkan malaikat Jibril sendiri pun tidak pernah sampai ke situ. Kisah itu berlaku pada malam Lailatul Qadar.
Adapun melihat beberapa perkara ghaib yang terkandung di dalam Luh MAhfuz, maka harus dicapai oleh sesiapa yang Allah kehendaki, maka sesungguhnya para nabi melihat sebahagian daripada kandungan Luh Mahfuz melalui jalan wahyu.
Ianya juga berlaku kepada beberapa orang soleh dengan jalan kasyaf dan ilham daripada Allah Taala.
Dalam satu hadith Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam
yang bermaksud :
Perhatian di sini hendaklah diperhatikan beberapa perkara :
Pertama : hendaklah setiap orang Islam dapat membezakan antara ilham yang datang dari Allah dan ilham yang datang dari syaitan supaya tidak terjatuh ke dalam syirik yang membatalkan syahadah. Ilham daripada Allah dapat dicapai oleh mereka yang lurus zahir dan batinnya atas syariat Allah, samada pada iktikadnya, perkataannya dan perbuatannya. Manakala ilham daripada syaitan maka ia dicapai oleh golongan zindiq, pembuat bidaah yang tergelincir dan sesat.
Kedua : Mereka yang mendapat kasyaf dan ilham daripada Allah tidak bermakna mereka lebih afdhal daripada mereka yang tidak mencapai kasyaf dan ilham dari Allah. Kadang-kadang kita akan dapati orang yang tidak mencapai kasyaf dan ilham dari Allah lebih tinggi darjatnya dan lebih afhal daripada mereka yang mendapat kasyaf dan ilham daripada Allah.
Ketiga : Untuk mencapai hukum syarak, tidak ada jalan lain melainkan daripada Al Quran dan As Sunnah mengikut fahaman salaf soleh. Adapun kasyaf dan ilham daripada Allah maka ianya tidak boleh dijadikan asas untuk membentuk hukum syarak dan dalil agama.
Tentang cerita mengatakan Ibnu Taimiyyah pernah mencapai kasyaf, maka ada riwayat-riwayat yang mengatakan begitu, antaranya IbnuTaimiyyah memberitahu bala tentera Tartar akan mengalami kekalahan walaupun berita kedatangan tentera Tartar belum kedatangan lagi, dan Ibnu Taimiyyah pernah bersumpah tentang perkhabaran itu. Cerita ini dapat kita anggapkan sebagai Ibnu Taimiyyah adalah di antara mereka yang lurus zahirnya dan batinnya, perkataannya, amalannya dan iktikadnya.
Tuesday, May 15, 2012
Tahanan Palestin nekad mogok lapar
| at May 15, 2012 | 0 comments
60 tahun yang lalu, lebih daripada 700,000 rakyat
Palestin kehilangan tempat tinggal, harta benda, ladang, perniagaan, serta
pekan dan bandar yang mereka diami. Militia Yahudi berusaha untuk mewujudkan
sebuah negara dengan majoriti Yahudi di Palestin, tentera Israel telah
menghalau rakyat palestin keluar dari tanah mereka. Israel pula dengan pesat
memindahkan orang yahudi masuk ke dalam rumah Palestin yang baru
dikosongkan. Nakba bermaksud "malapetaka" dalam bahasa Arab. Palestin
merujuk Nakba “malapetaka”, sebagai kemusnahan masyarakat mereka dan sebagai
rampasan tanah air mereka.
Sepuluh Fakta tentang Nakba
1. Nakba adalah punca masalah Israel / Palestin.
Nakba ditanda pada 15 Mei, hari selepas Israel mengisytiharkan kemerdekaan mereka pada tahun 1948 ke atas tanah haram palestin.
2. Peristiwa traumatic ini mewujudkan krisis pelarian Palestin.
Dua pertiga daripada penduduk Palestin telah dibuang negeri menjelang akhir tahun 1948. Adalah dianggarkan bahawa lebih daripada 50% telah dihalau keluar di bawah serangan ketenteraan secara langsung. Selebihnya melarikan diri kerana penyebaran berita bahawa pembunuhan beramai-ramai yang dilakukan oleh militia Yahudi di kampung-kampung Palestin seperti Deir Yassin dan Tantura.
3. Pemimpin Yahudi melihat "pemindahan" sebagai satu langkah penting dalam penubuhan Israel.
Pemimpin Yahudi bercakap secara terbuka bahawa keperluan menggunakan pertempuran tentera untuk mengusir seberapa ramai rakyat Palestin yang boleh sebelum negara-negara Arab yang lain datang untuk menyerang.
‘The Haganah militia’s Plan Dalet’ adalah pelan tindakan yang dikuatkuasakan Israel untuk pembersihan etnik ini. Perdana Menteri Israel yang pertama, David Ben Gurion, berkata "Kita mesti menggunakan keganasan, pembunuhan, ancaman, rampasan tanah, dan memotong semua perkhidmatan sosial untuk menghapuskan penduduk Arab di Galilee (Galilee adalah sebuah tasik yang dipanggil sebagai Laut Galilee)."
4. Ratusan kampung dan bandar Palestin telah musnah.
Tentera Yahudi telah mengosongkan lebih daripada 450 bandar-bandar dan kampung-kampung di Palestin. Sebahagian besar telah dirobohkan.
5. Harta dan barang milik rakyat Palestin diambil sesuka hati.
Kerajaan baru yang ditubuhkan Israel telah merampas tanah pelarian dan harta benda milik rakyat palestin tanpa keinginan untuk memberi peluang kepada rakyat palestin untuk kembali ke rumah masing-masing.
Sejarawan Israel, Tom Segev, melaporkan bahawa: “Entire cities and hundreds of villages left empty were repopulated with new [Jewish] immigrants… Free people – Arabs – had gone into exile and become destitute refugees; destitute refugees – Jews – took the exiles’ places in the first step in their lives as free people. One group [Palestinians] lost all they had while the other [Jews] found everything they needed – tables, chairs, closets, pots, pans, plates, sometimes clothes, family albums, books radios, pets…. “
6. Sebahagian rakyat palestin masih kekal atau tinggal di dalam apa yang dikenali sebagai Israel.
Sementara kebanyakan rakyat Palestin dihalau keluar, ada yang masih kekal di dalam Israel. Walaupun mereka (rakyat palestin) adalah rakyat negeri baru, mereka tertakluk kepada peraturan tentera Israel sehingga 1966.
Hari ini, penduduk Palestin di Israel terdiri daripada hampir 20 peratus daripada keseluruhan penduduk Israel. Mereka mempunyai hak untuk mengundi dan bertanding untuk mendapat jawatan.
Tetapi, lebih daripada 20 undang-undang keistimewaan diwujudkan untuk dinikmati oleh orang yahudi melebihi keatas orang bukan yahudi. Juga, hampir satu perempat rakyat Palestin yang menetap di dalam Israel telahpun "dipindahkan", dan mereka tidak dapat lagi untuk kembali ke rumah dan tanah mereka yang telah diambil Israel.
7. Kini, terdapat berjuta pelarian Palestin yang tersebar di seluruh dunia.
Hari ini, terdapat 4.4 juta pelarian Palestin yang berdaftar dengan Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB), dan dianggarkan masih ada sekurang-kurangnya 1 juta lagi yang masih belum didaftarkan.
8. Pelarian mempunyai hak yang diiktiraf di peringkat antarabangsa.
Semua pelarian mempunyai hak-hak yang diiktiraf di peringkat antarabangsa untuk kembali ke kawasan yang telah mereka larikan diri ataupun dipaksa keluar, untuk menerima pampasan bagi kerosakan yang telah berlaku, dan sama ada untuk mendapatkan kembali harta benda mereka ataupun menerima pampasan dan sokongan untuk penempatan semula secara sukarela. Hak ini telah jelas diakui dalam perjanjian damai terkini di Kemboja, Rwanda, Croatia, Bosnia-Herzegovina, Guatemala, Ireland Utara, Kosovo, Sierra Leone, Burundi, dan Darfur. Hak ini walaupun telah diperakui untuk rakyat Palestin oleh Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu dalam Resolusi 194 tahun 1948, Israel, bagaimanapun, masih tidak membenarkan pelarian Palestin untuk kembali, tetapi seorang Yahudi dari mana-mana tempat di dunia boleh menetap dan tinggal di Israel dengan sewenangnya.
9. Keadilan dalam menyelesaikan hak pelarian adalah penting untuk keamanan di Timur Tengah.
Majoriti besar rakyat Palestin percaya bahawa hak sebagai pelarian perlu dipenuhi bagi mengekalkan keamanan antara Palestin dan Israel. Mengikut tinjauan pada bulan Ogos 2007 oleh Jurusalem Media and Communications Center, hampir 70 peratus yakin bahawa pelarian perlu dibenarkan kembali kepada "tanah asal mereka".
10. Nakba mempunyai implikasi terhadap rakyat Amerika.
Israel berterusan menafikan hak rakyat Palestin melalui bantuan kewangan serta sokongan diplomatik tanpa syarat oleh Amerika Syarikat. Satu tinjauan telah dilakukan oleh Zogby di lapan buah negara Arab pada tahun 2002 menunjukkan bahawa "persepsi negatif terhadap Amerika Syarikat adalah disebabkan kerana dasar Amerika itu sendiri, dan bukan kerana tidak suka akan Barat." Tinjauan yang sama juga menunjukkan bahawa "isu Palestin telah disenaraikan oleh kebanyakan orang-orang Arab antara isu politik yang memberi kesan kepada diri mereka secara peribadi. “ Resolusi terhadap isu pelarian Palestin tidak syak lagi akan meningkatkan imej Amerika diperingkat antarabangsa, dengan membuktikan bahawa kerajaan AS menyokong segala usaha keganasan dan ketidakadilan dalam isu negara haram Israel terhadap Palestin.
Sepuluh Fakta tentang Nakba
1. Nakba adalah punca masalah Israel / Palestin.
Nakba ditanda pada 15 Mei, hari selepas Israel mengisytiharkan kemerdekaan mereka pada tahun 1948 ke atas tanah haram palestin.
2. Peristiwa traumatic ini mewujudkan krisis pelarian Palestin.
Dua pertiga daripada penduduk Palestin telah dibuang negeri menjelang akhir tahun 1948. Adalah dianggarkan bahawa lebih daripada 50% telah dihalau keluar di bawah serangan ketenteraan secara langsung. Selebihnya melarikan diri kerana penyebaran berita bahawa pembunuhan beramai-ramai yang dilakukan oleh militia Yahudi di kampung-kampung Palestin seperti Deir Yassin dan Tantura.
3. Pemimpin Yahudi melihat "pemindahan" sebagai satu langkah penting dalam penubuhan Israel.
Pemimpin Yahudi bercakap secara terbuka bahawa keperluan menggunakan pertempuran tentera untuk mengusir seberapa ramai rakyat Palestin yang boleh sebelum negara-negara Arab yang lain datang untuk menyerang.
‘The Haganah militia’s Plan Dalet’ adalah pelan tindakan yang dikuatkuasakan Israel untuk pembersihan etnik ini. Perdana Menteri Israel yang pertama, David Ben Gurion, berkata "Kita mesti menggunakan keganasan, pembunuhan, ancaman, rampasan tanah, dan memotong semua perkhidmatan sosial untuk menghapuskan penduduk Arab di Galilee (Galilee adalah sebuah tasik yang dipanggil sebagai Laut Galilee)."
4. Ratusan kampung dan bandar Palestin telah musnah.
Tentera Yahudi telah mengosongkan lebih daripada 450 bandar-bandar dan kampung-kampung di Palestin. Sebahagian besar telah dirobohkan.
5. Harta dan barang milik rakyat Palestin diambil sesuka hati.
Kerajaan baru yang ditubuhkan Israel telah merampas tanah pelarian dan harta benda milik rakyat palestin tanpa keinginan untuk memberi peluang kepada rakyat palestin untuk kembali ke rumah masing-masing.
Sejarawan Israel, Tom Segev, melaporkan bahawa: “Entire cities and hundreds of villages left empty were repopulated with new [Jewish] immigrants… Free people – Arabs – had gone into exile and become destitute refugees; destitute refugees – Jews – took the exiles’ places in the first step in their lives as free people. One group [Palestinians] lost all they had while the other [Jews] found everything they needed – tables, chairs, closets, pots, pans, plates, sometimes clothes, family albums, books radios, pets…. “
6. Sebahagian rakyat palestin masih kekal atau tinggal di dalam apa yang dikenali sebagai Israel.
Sementara kebanyakan rakyat Palestin dihalau keluar, ada yang masih kekal di dalam Israel. Walaupun mereka (rakyat palestin) adalah rakyat negeri baru, mereka tertakluk kepada peraturan tentera Israel sehingga 1966.
Hari ini, penduduk Palestin di Israel terdiri daripada hampir 20 peratus daripada keseluruhan penduduk Israel. Mereka mempunyai hak untuk mengundi dan bertanding untuk mendapat jawatan.
Tetapi, lebih daripada 20 undang-undang keistimewaan diwujudkan untuk dinikmati oleh orang yahudi melebihi keatas orang bukan yahudi. Juga, hampir satu perempat rakyat Palestin yang menetap di dalam Israel telahpun "dipindahkan", dan mereka tidak dapat lagi untuk kembali ke rumah dan tanah mereka yang telah diambil Israel.
7. Kini, terdapat berjuta pelarian Palestin yang tersebar di seluruh dunia.
Hari ini, terdapat 4.4 juta pelarian Palestin yang berdaftar dengan Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB), dan dianggarkan masih ada sekurang-kurangnya 1 juta lagi yang masih belum didaftarkan.
8. Pelarian mempunyai hak yang diiktiraf di peringkat antarabangsa.
Semua pelarian mempunyai hak-hak yang diiktiraf di peringkat antarabangsa untuk kembali ke kawasan yang telah mereka larikan diri ataupun dipaksa keluar, untuk menerima pampasan bagi kerosakan yang telah berlaku, dan sama ada untuk mendapatkan kembali harta benda mereka ataupun menerima pampasan dan sokongan untuk penempatan semula secara sukarela. Hak ini telah jelas diakui dalam perjanjian damai terkini di Kemboja, Rwanda, Croatia, Bosnia-Herzegovina, Guatemala, Ireland Utara, Kosovo, Sierra Leone, Burundi, dan Darfur. Hak ini walaupun telah diperakui untuk rakyat Palestin oleh Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu dalam Resolusi 194 tahun 1948, Israel, bagaimanapun, masih tidak membenarkan pelarian Palestin untuk kembali, tetapi seorang Yahudi dari mana-mana tempat di dunia boleh menetap dan tinggal di Israel dengan sewenangnya.
9. Keadilan dalam menyelesaikan hak pelarian adalah penting untuk keamanan di Timur Tengah.
Majoriti besar rakyat Palestin percaya bahawa hak sebagai pelarian perlu dipenuhi bagi mengekalkan keamanan antara Palestin dan Israel. Mengikut tinjauan pada bulan Ogos 2007 oleh Jurusalem Media and Communications Center, hampir 70 peratus yakin bahawa pelarian perlu dibenarkan kembali kepada "tanah asal mereka".
10. Nakba mempunyai implikasi terhadap rakyat Amerika.
Israel berterusan menafikan hak rakyat Palestin melalui bantuan kewangan serta sokongan diplomatik tanpa syarat oleh Amerika Syarikat. Satu tinjauan telah dilakukan oleh Zogby di lapan buah negara Arab pada tahun 2002 menunjukkan bahawa "persepsi negatif terhadap Amerika Syarikat adalah disebabkan kerana dasar Amerika itu sendiri, dan bukan kerana tidak suka akan Barat." Tinjauan yang sama juga menunjukkan bahawa "isu Palestin telah disenaraikan oleh kebanyakan orang-orang Arab antara isu politik yang memberi kesan kepada diri mereka secara peribadi. “ Resolusi terhadap isu pelarian Palestin tidak syak lagi akan meningkatkan imej Amerika diperingkat antarabangsa, dengan membuktikan bahawa kerajaan AS menyokong segala usaha keganasan dan ketidakadilan dalam isu negara haram Israel terhadap Palestin.
Subscribe to:
Posts (Atom)



